Saturday, 28 November 2015

Kekayaan Bumi Papua ( Jilid 1 )

FREEPORT DARI 
TITIK NOL
Kekayaan bumi Papua telah mengundang perhatian orang - orang di belahan eropa.pada tahun 1970-an eksplorasi di lakukan, meski terbatas temuan benda  - benda aneh dan langka. seseorang bernama Rumphius menjangkau bagian barat di dekat kawasan perniagaan dari daerah ambon.jelang akhir abad ke -19 sekitar perang dunia ke II eksplorasi serius mulai di lakukan.Burung cendrawasih salah satu daya tarik kuat kehidupan Papua.
      Jauh sebelumnya pada 1623, Jan Carstensz berlayar di sepanjang pesisir tenggara kepulauan Papua. Jan cartstenz menjadi orang pertama yang melihat puncak gunung tertinggi yang di tutupi salju. nama Cartensz kemudian di jadikan untuk nama gunung itu, yang kini di kenal orang papua dalam bahasa Amungkal,Nemangkawi. 
     Tahun 1936, sekelompok ekspedisi melakukan perjalanan ke pegunungan Cartensz terdiri dari Anton Hendrik Colijn, Frist Julus Wissel, dan jean Jacques Dozy. ketiga orang tersebut mendaki dan berhasil mencapai puncak cartensz. ekspedisi ini di kenal dengan nama ekspedisi Colijn, yang kemudian menjadi catatan penting bagi ekspedisi kelompok lain yang mengeksplorasi kekayaan alam di bumi papua.
      Pada april 1960 Forbes Wilson melakukan kunjungan ke timika melakukan Ekspedisi ke Grasberg. ia di temani tokoh suku Amungme, Moses Kilangin, yang di kenal sebagai perintis gereja di timika.Forbes Wilson dan Moses Kilangin menempun perjalanan melalui rute sungai Mawati.Menyeberangi sungai Tsinga.dari lembah Tsinga menuju ke arah barat lembah Waa, selanjutnya mereka mengikuti rute tim ekspedisi Colijn dan Dozy berkemah. lalu berjalan ke utara menuju ke lembah Aghawagong.
      Tujuh tahun setelah Forbes Wilson menemukan kandungan emas di nemangkawi, atau beberapa minggu Soeharto di lantik sebagai Presiden pada 7 April 1967, eksploitasi di mulai soeharto memberikan lisensi ke perusahaan tambang Amerika Serikat, Freeport Sulphur, sekarang Freeport McMoran,untuk menambang di pegunungan Hertzberg di kabupaten fakfak, Irian barat, kini lokasi itu sebagian besar masuk area konsensi Freeport di Mimika.
      Masuknya Freeport Sulphur ke papua di dukung dengan Undang - undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang penanaman Modal Asing yang di sahkan pada 10 januari 1967. sementara itu, Indonesia defakto masih di pimpin Soekarno. Menurut Penulis Amerika Serikat Bradley R. Simpson, UU Penanaman Modal Asing ( PMA ) telah di Desain sejak awal melibatkan pihak asing dalam merumuskan, menyusun dan memperbaiki bab demi bab hingga proses pengesahan undang - undang tersebut. 
      Bradley R.Simpson menyatakan hanya beberapa bulan setelah pecahnya peristiwa G30S ( Gerakan 30 September ) dan melemahnya posisi Soekarno pada bulan april 1966. perusahaan itu telah memberi tahu departemen Luar Negeri AS bahwa Freeport mebutuhkan satu kelompok pengusaha Pro UU PMA sebagai syarat perjanjian yaitu perlindungan investasi dan iklim investasi yang layak.
      Freeport dan investor asing memandang Soekarno yang anti kapitalis dan antikolonialis itu sebagai batu sandungan besar untuk mengeruk kekayaan alam di Irian barat. maka jatuhnya Soekarno merupakan momentum yang di tunggu - tunggu. sesudah Soekarno di paksa menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto pada 12 maret 1967. satu bulan kemudian UU PMA di sahkan dan pada 7 April 1967 Freport dan pemerintah RI Menandatangani Kontrak Karya pertama. lebih awal dua tahun dari Penentuan Pendapat Rakyat ( PEPERA ) 1969. hal ini ada kaitannya dengan Lobi - Lobi Elsworkth Bunker yang mengusulkan New York Agreement 1962 dan Rome Agreement 1969.
      Setelah di telaah lebih dalam dalam pasal - pasal kontrak karya itu mereflesikan relasi kekuasaan Orde baru dalam mencari legimitasi politik atas sengketa status politik papua barat dan pemerintah Indonesia.Soeharto membutuhkan dukungan Amerika Serikat yang diam - diam melangkahi perjanjian New York yang di dukung perserikatan bangsa - bangsa, khususnya pasal 22 ( 1 ) yang menjamin hak atas pilihan bebas dan pasal 18 ( D ) yang mensyaratkan seluruh orang dewasa Papua harus di perbolehkan mengikuti PEPERA untuk memilih merdeka atau bergabung dengan Indonesia.
      Soeharto berharap masuknya Freeport ke Papua Barat sebelum proses Pepera pada 1969 bisa memperkuat posisi Indonesia dalam merebut wilayah Papua barat. sementara bagi Freport dan Amerika Serikat, mendukung papua barat masuk indonesia lebih menguntungkan untuk memperoleh kepastian mengeksploitasi sumber daya alam.
     Sebelumnya izin pertambangan di indonesia adalah jenis konsesi yang syarat  - syarat perjanjiannya sangat menguntungkan kepentingan dalam negeri ,di antaranya :
  • Freport akan menyerahkan seluruh peralatan yang di bawa ke indonesia kepada pemerintah RI
  • pendapatan, terutama yangberkaitan dengan valuta asing, akan di awasi pemerintah indonesia
  • Manajemen proyek akan di laksanakan pemerintah dengan keterlibatan terbatas freeport dalam hal arahan teknis
  • saat Freeport sudah balik modal, pemerintah akan mengambil alih proyek bentuk perjanjian konsensi itu tidak di sukai freeport, sebagai gantinya freeport menyusun sendiri perjanjian yang menguntungkan pihaknya dan menempatkan perusahaan asing sebagai mitra sejajar pemerintah. dan yang mengejutkan, seluruh rancangan freeport itu di terima pemerintah Indonesia.